Sabtu, 23 Maret 2013

Manusia Yang Satu Ini :)



Hei kamu.

Iya, kamu yang selalu bisa membuat saya tertawa. Kamu yang juga bisa membuat saya tenang ketika tekanan datang dari semua arah. Kamu tidak pernah berusaha untuk membuat saya nyaman, tapi berada di samping kamu saya merasa di rumah.

Saya tahu kamu tidak merasa telah memberi, tapi kamu sudah menjadi seperti matahari di saat mendung. Kehadiran kamu tidak selalu terlihat di setiap kelabu, tapi saya tahu kamu selalu memperhatikan. Saya tahu jika saya mencari, kamu ada dan saya akan menemukan kamu.

Kamu membuat saya belajar untuk berani menjadi diri sendiri. Kamu bukan malaikat yang bisa hadir setiap detik, tapi akan ada saatnya kamu datang dengan senyum jahil yang khas di wajahmu. Berbagi suka dan kehangatan yang kemudian menetap di dalam hati, menjadi kekuatan  yang membuat saya berani melangkah.

Terima kasih ya, untuk semuanya.

Minggu, 03 Maret 2013

HEY, I'M OKAY ☺


Hello everyone.. Aah~ akhirnya saya kembali lagi dalam dunia per-blogan ini. Betapa saya sangat rindu untuk menulis, tapi apadaya karena banyaknya hal yang harus dikerjakan dan  dilakukan, maka hasrat untuk menulis pun harus ditunda dulu hehe :)


Baiklah langsung saja ya. Jadi begini, barusan saya cek e-mail. Ada sebuah e-mail dari FutureMe dengan subject 'Hey, this is yourself'. Saya jadi inget, tepat setahun yang lalu saya login di FutureMe.org dan mengirimkan sebuah e-mail untuk diri saya di masa depan. Ternyata hari ini adalah masa depan yang dimaksud. Dengan cepat saya buka, penasaran apa yang saya tulis tahun lalu.


"Hey, Apa kabar? Semoga kau baik-baik saja :) Ketika kau membaca ini, kau harus semakin kuat dalam menjalani segalanya. Ingat, harus tetap kuat dan semangat! :)"


Jujur saya sudah lupa isinya, bahkan lupa kalau saya sempat mengirim e-mail untuk diri saya di masa depan. Jadi sedikit sendu ketika membacanya. Halah.

Saya ingat kondisi setahun lalu ketika saya menulis e-mail tersebut. Saya sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja dan sangat ingin memutar waktu untuk melihat keadaan di depan.

Hari inilah masa depan yang dimaksud. Kondisi saya pun baik-baik saja. Sempat jatuh, tapi masih bisa berdiri. Ternyata cukup sedih-sendu-mellow gimana gitu ya membaca e-mail dari diri sendiri. Terutama pesannya. Seperti ditanyakan oleh seorang teman dari jauh yang masih peduli dengan saya.

Agak aneh sebenarnya kalau dipikir-pikir. Itu kan diri saya sendiri, hahaha. Apa mungkin karena lagu-lagu Sigur Ros yang sedang saya dengar sekarang? Entahlah.

Tapi yang pasti, kondisi saya baik. Dari segala hal yang menimpa, yang saya anggap akan melumpuhkan saya, ternyata saya baik-baik saja. Terima kasih, Tuhan.

Senin, 10 Desember 2012



I was dreaming so long last night. Well, I cannot really recall the chapters in order, but I do remember some parts. It was about two people who were in love deeply. I was more about an observer, so I was watching their life. Somehow they cannot be together, and why my dream felt so long, maybe it’s because the road of their love life was playing all night. I failed to remember the dialogues and the scenes, but the feeling of watching them is so miserable and pitiful.
I remember the background is in a lonely beach, with the sun setting down. The sky was full of yellow and orange clouds, and the dark sea sparkles. It was very movingly beautiful. At that time, I was sitting on a dark porch near the beach, holding a pen with a paper on a pad. I was not really understand what to do, as I was in deep concentration of watching the two lovebirds.
It seems when my dream was about to come to an end, I saw them was trying to figure out what they wanted to do with their relationship. Eventually, they asked God for their fate. And God granted their wish, to let them not apart, but with a sacrifice.
Suddenly they turned around and looked at me gracefully. I was confused. Slowly, they transformed into two children. They were holding hands, and still looking at me. I stood up, and approached them slowly. I sat on a flat rock near them, still holding the pen and the paper. After transforming into children, the boy hugged the girl tightly.
It was very moving to see them. But the story didn’t end at that moment. The girl cried in silence, as the boy stop hugging her and walked backwards. Again, I’m very confused. Wasn’t that their happy ending?
Apparently not. Slowly, a pair of wings grew from the boy’s back. He became an angel, and he was carried up from the ground. They didn’t say anything, but some way, I can hear them talking in my heart.
The boy promised God that he would do anything to keep them together. His request was approved, but in return, he cannot be with the girl as a human, but in the form of an angel. He will be able to watch over her and see her. Once a month, on that date, the girl will be able to see him. Their life would go on like that until the death of the girl. And when that time comes, the girl would transform into an angel like him, while the eternity waited for them.
The boy disappeared. The girl was still standing, trying to absorb what really happened. I came towards her. She smiled at me, and asked me to write about what I saw from the beginning. Then, she left me. I went back to the dark porch and start writing in grace.
I think it’s not a tragedy. It’s more like a sacred love struggle that reminds me to strengthen myself in my own love life. It costs everything to keep a love. Although I have to spend all I have to keep that sacred feeling, I will not lose them. It’s worth the effort.

Rabu, 14 November 2012

Be Thankful! :)



Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur.

Mungkin kata-kata ini sering kita bisikkan dalam hati, berusaha memotivasi diri kita untuk mampu melakukannya, dan mempertahankannya dalam keseharian kita. Namun terkadang hal ini sulit untuk dilakukan. Aku selalu punya pemikiran seperti ini:
1. Bersyukur dalam kelebihan (ketika kita diberi kesehatan, kesuksesan, dsb) merupakan sesuatu yang sudah seharusnya kita lakukan.
2. Bersyukur dalam kekurangan (ketika kita sakit, gagal dalam kuliah/pekerjaan, dsb) merupakan sesuatu yang luar biasa jika mampu kita lakukan.
Namun apa yang seringkali terjadi? Kita yang dalam keadaan berkecukupan, namun masih juga tidak bersyukur. Kita yang memiliki segalanya, masih juga bersungut-sungut. Lalu bagaimana jika kita sedang berada dalam kekurangan? Mungkin tanpa sadar, kita tak pernah lagi bersyukur. Kalau kita tidak mampu untuk bersyukur dalam kelebihan, kita takkan pernah mampu untuk bersyukur dalam kekurangan. In daily life we must see that it isn't happiness that makes us grateful, but gratefulness that makes us happy :)

Suatu ketika, seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya untuk mengunjungi sebuah kampung dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang di desa tersebut sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat kumuh dan kotor.

Pada perjalanan pulang, sang Ayah kemudian bertanya kepada anaknya: "Nak, bagaimana perjalanan kali ini?"

kemudian sang anak menjawab:
"Wah, sangat luar biasa, Ayah!!"

Ayahnya berkata lagi:
"Kau lihat kan betapa mereka sangat miskin!
Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?"

Kemudian si anak menjawab demikian:
"Selama berada di sana, aku menyaksikan bahwa:

Kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat.

Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah taman,
dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya.

Kita mengimpor lentera-lentera untuk taman kita,
dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari.

Kita memiliki patio sampai ke halaman depan,
dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.

Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal,
dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita.

Kita memiliki pelayan-pelayan untuk melayani kita,
dan mereka melayani sesamanya.

Kita membeli untuk makanan kita,
dan mereka menumbuhkannya sendiri.

Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita,
dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi."

Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berkata-kata lagi..

Kemudian sang Anak menambahkan:
"Terima kasih, Ayah.. Kita mungkin tidak memiliki segalanya berlimpah seperti mereka. Namun dengan bersyukur, aku merasa hidupku sempurna."

Terkadang.. Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita miliki. Dari kisah ini, aku belajar bahwa apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang nyatanya bisa menjadi dambaan/harapan bagi orang lain. Sehingga hal bersyukur ini merupakan sesuatu yang subjektif, dan tergantung oleh cara pandang kita masing-masing.. Sang Ayah dalam kisah ini merasa bahwa orang-orang yang hidup di kampung tersebut jauh lebih miskin hidupnya dibandingkan dirinya, tetapi sang Anak? Ia berpikir sebaliknya.. Namun sang Anak yang berpikir sebaliknya itu tidak kemudian menjadi bersungut, atau kecewa, atau bahkan iri hati. Ia tetap bersyukur, karena ia tahu, dengan bersyukur hidupnya menjadi sempurna. How do you think determines of how you give thanks.. and always look for the positive side, that would be the best answer.. :)

Jadi, kalau kita sering berpikir kalau kita berkekurangan (aku kurang tinggi, aku kurang cantik/ganteng, aku kurang pintar, aku kurang kasih sayang, dsb), berpikirlah dengan cara pandang yang berbeda, bahwa di luar sana ada begitu banyak orang yang ingin hidupnya seperti kita. Karena itu, bersyukurlah! Berpikir positif dalam memandang segala sesuatu. Bukan hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi kapan kita akan mampu melakukannya kalau kita tidak berusaha memulainya? :)

"Our first breath in the morning maybe is somebody's last. That itself, is a reason enough to be grateful and happy in life. Don't think about the things you didn't get after praying, but think about the countless blessings God gives you everyday, even every seconds, without asking.."

Minggu, 14 Oktober 2012

Re-post of: Beautiful Passage From a Friend :)



Bandung, 20 September  2012.

Dari sekian banyak manusia di dunia, tidak ada satupun yang bisa menjelaskan mengapa diri kita bisa datang dan terlahir untuk hadir didalam suatu keluarga.

Dari sekian banyak manusia, dari sekian banyak tempat di dunia, kita semua terlahir dan hadir tanpa memilih, tanpa dipilih, tanpa terpilih, didalam keluarga yang berbeda-beda. 

Keluarga yang merupakan kesempurnaan pertama yang kita punya, satu-satunya harta yang kita dapatkan secara cuma-cuma, salah satu dari definisi tentang hal yang tak ternilai harganya.
Selanjutnya, keluarga yang mengenalkan kita kepada dunia luar, dunia yang kita belum kenal, dunia yang belum kita ketahui akhirnya.

Di dunia luar, dari sekian banyak manusia yang ada, tidak ada satupun yang bisa menjelaskan mengapa aku dan mereka bisa bersama, kenal, duduk di meja yang sama, bercanda, tertawa.

Kami berasal dari keluarga yang berbeda, keluarga yang awalnya pun tidak mengenal satu sama lain, tinggal di tempat yang jauh berbeda-beda, tetapi hanya awalnya lah yang akan menjadi rahasia.

Jikalau semuanya memang sudah ditentukan oleh sang pencipta, merekalah harta-harta tak ternilai lain yang aku yakini sudah disiapkan oleh-Nya. Aku tak pernah mencari mereka, aku tidak menemukanya, tetapi terasa bahwa ‘merekalah orangnya’ saat aku hadir diantaranya. Aku tidak mau memberi mereka nama, aku belum temukan istilah yang tepat dari definisi yang kupunya.

Mereka bukanlah wajah-wajah yang hadir dan ada didalam tiap hariku di dunia, tetapi jika Tuhan memberi aku izin untuk hidup 1000 tahun lagi, merekalah yang aku minta untuk tetap ada, jadi yang kedua setelah keluarga. Tempat yang aku pilih jika ada jin yang mau mengabulkan permintaanku saat aku terdampar di pulau entah dimana. 

Tugasku hanya bersyukur dan menjaga. Walau mereka tak setiap hari ada, walau mereka yang jarang ku lihat di depan pandangan mata, tetapi tempat mereka masing-masing di hati ini  sudah ada dari sananya.

Rumah kedua, ini semua sudah sempurna, aku sudah merasa bahagia, apalagi yang kubutuhkan selain mereka?


- Samantha Josephine 

Kamis, 02 Agustus 2012

Happy Birthday, Dad! ♥



 My father doesn't tell me how to live. He lives, and let me watch him do it. ~

Dia lah papa. Aku memanggilnya dengan sebutan itu karena beliau sangatlah aku. Wataknya sebagian besar tercermin dalam diriku. Ketidaksabaran. Kami paling tidak suka menunggu, dan kami juga tidak suka membuat orang lain menunggu. Keras kepala untuk hal – hal yang kami yakini dalam pikiran kami. Cepat. Dalam banyak hal, tiap hari, kemanapun ia pergi, apapun yang ia lakukan, ia tergolong sangat cepat bergerak. Makan. Dia sangat suka makan, dan begitulah aku. Ketika kami berdua disatukan untuk makan, kami pasti tidak akan memperdulikan orang – orang sekitar.

Aku menyebutnya papa karena kami berbeda. Kami bertolakbelakang dalam banyak hal, berdebat akan beberapa prinsip yang kami anut. Dia dewasa dan banyak pertimbangan. Menurutku dia dilatih untuk matang sebelum waktunya. Beliau mewarisi watak ayahnya. Ia harus menjadi pemimpin dan penolong bagi saudara – saudaranya, dan itu yang ia lakukan semasa beliau hidup. Di lain pihak, aku sangat bergantung. Ya bergantung padanya. Sering sekali bermanja – manja, merayu bila ada sesuatu yang kuinginkan. Kami berbeda. Aku sering menangis dalam hari - hari ku, di tempat pribadiku. Sedangkan Ia jarang, atau bahkan tidak pernah menangis, setidaknya di hadapanku.

Dialah papa. Aku menyebutnya bangga karena cinta kasihnya yang dulu saat masih di usia remaja tidak dapat kupahami. Aku tidak diperbolehkan ini itu, tidak boleh pergi ketempat yang dia tidak tahu. Tapi sekarang aku mengerti, semua itu karena dia menganggap aku sebagai titipan Tuhan yang amat berharga, yang harus ia jaga dan pertanggungjawabkan. Kasih sayangnya yang  membuatku aman, membuat aku tidak takut lagi.

Dialah papaku, karena dia sumber inspirasiku.Banyak hal yang aku pelajari dalam dirinya, bagaimana ia selalu mengutamakan kepentingan orang lain terlebih kepentingannya sendiri. Dia yang selalu tidak hitung-hitungan dalam memberikan bantuan, apapun dan kepada siapapun itu. Dia yang selalu tersenyum dan ramah terhadap semua orang yang ditemuinya. lebih dari itu, Dia seseorang yang sangat menyayangi keluarganya. 

Dialah papaku, karena dia yang mengingat dengan jelas, masa – masa indah pertumbuhanku. Sejak aku dilahirkan, terdiam saat dinyanyikannya lagu tidur, belajar berjalan, tumbuh besar, dan ah..Papa yang tau kebiasaan nakalku. Papa yang tahu semua apa yang kusukai dan tidak kusukai. Papa yang selalu membawaku kemanapun ia pergi. Seorang Papa yang pergi pagi-pagi dengan celana pendeknya ke sekolah, demi mengetahui apakah aku diterima disekolah itu atau tidak. Papa yang selalu mengantar-jemput kami sekolah,dengan cerita barunya setiap pagi. Ia adalah Papa yang selalu membantu dan memberiku dorongan ketika aku ingin menyerah saat mengerjakan sesuatu,dan  ia tersenyum seolah ingin berkata “pasti bisa”. Dia adalah ayahku. Ia marah terhadap orang – orang yang malas, tetapi menyenangi orang yang berjuang dan tidak putus asa. Dia bukan orang yang suci, dia juga pernah melakukan kesalahan. Dia meminta maaf dan memperbaiki diri.

Hari ini tanggal 2 Agustus, tepat hari ulang tahunnya. Sejak kepergiannya 8 tahun lalu, kalau dihitung, sekarang beliau berumur 58 tahun. Pagi hari tadi aku dan mama membicarakan mengenai dia, kami penasaran, seperti apa wajahnya apabila dia masih ada, apakah rambutnya sudah semakin memutih, apakah keriputnya sudah tampak. Entahlah, tapi didalam ingatanku, dia tetap sama, seorang papa yang selalu kuingat jelas wajah dan suara tertawanya.

Itulah Dia, Ayahku, raganya memang sudah tidak ada, tetapi semua mengenainya, baik teladan dan pelajaran yang ia berikan selalu ada dan tertanam dalam hati kami anak-anaknya.

"Dad, Every year, your birthday always reminds me of how grateful I am that you are my father. Happy Birthday,dad! Just want you to know, that your daughter miss you all the time :) Wherever I go, you always live inside my heart. Thanks for everything, Dad."

I'll always love you! Forever :)

Selasa, 24 Juli 2012

The Unexpected Ones :)


"Life is so full of unpredictable beauty and strange surprises." -unknown
People come and go. They come like the unexpected visitors. Some come and immediately go. Some stay for awhile. Some don't. We will never find out for how long they will stay. You know, I once hate the line "people come and go". Call me dumb or whatever, but I welcome those unexpected ones and treat them in the nicest way. I still remember this moment when I let some people come and give them some rooms in my heart. I let them stay. However, you know, we, human beings always take things for granted. Next thing I know is, people change. They come and go as easy as the wind blows. I turn bitter.

It takes quite some time to finally forgive and forget, to carry on with the amazing ups and downs in life. I finally forget the past and finally start to embrace the line: people come and go (again). It's not easy, nothing is ever easy but at least,  you gotta try.

You know that kind of feeling when you get very comfortable talking to this certain people. The kind of feeling when they finally decide to walk away from your life, but you still manage to post a smile on your face although deep inside, you're breaking into pieces. The kind of feeling when the both of you coincidentally meet at somewhere else, and post that awkward kind of "hi" or "hello", drifted apart and make your own ways.

As time flies, I soon learn how to embrace the time I have with all these unexpected ones. To ask them to stay in your life is something beyond your own control. Therefore, make use of every seconds you have with them for you will never know when they are going to leave you behind. It's good if they finally commit to stay. I wish all those loved ones would eventually choose to stay. However, facts translate it to something different because some did choose to walk away.

From here, I learn that whatever happens, life must go on. Life does not stop just because they walk away. Happiness does not end at the point where they decide to leave. Happiness lies within you. You know, the saying that asking you to remember to bring your own sunshine wherever you go? That is indeed very true because what's the point of being so dependent on others when it comes to happiness?

Now, you perhaps think that saying is so much easier than done. This is on the other hand, not true at all. I'm typing from a point of view where I had been hurt and break into pieces by someone, anyone, some bunches of childish immature people. However, today, I still manage to have a happy life because I, finally choose to let go and live life to the fullest. After all, my new paradigm of embracing all these unexpected people in life, is not that bad. They still provide me life lessons. They give me memories - both good and bad. They shape me into someone better.

Finally, here comes the endings. I believe things happen for a reason. You just need to wait for the time to reveal what the reasons behind it. Until then, decision is yours whether you're going to make each day counts or rather, turn bitter.
Simple as that.

 

Template by BloggerCandy.com