Selasa, 02 Maret 2021

00 : 00 NAMANYA ADIK, POT!

Hei, blog, apa kabar?  Kangen deh nulis disini hehe.

Kali ini gue pengen nulis tentang seseorang yang gue kenal. Kenalnya sih bukan dari lama ya. bukan juga temen sekolah karena perbedaan umur gue sama dia juga lumayan jauh lah. Bisa dibilang gue kenal dia hampir 3 tahun. Lama juga ya. hmmm.

Baiklah, Jadi dia ini dulu temen kantor gue. Pertemuan gue sama dia terjalin sejak tahun 2019. Jadi, ketika dia dateng pertama kali ke kantor. Gw ngajak dia salaman, secara anak baru ya kan. Seinget gue sih dia mukanya capek banget waktu itu. Kenapa? Ya bayangin guys, waktu itu dia dateng dari kantor pusat  di daerah mangga besar terus ke kantor kita di daerah bogor naik motor. Kebayang lah kaya gimana engapnya. Hehe

Kesan pertama gue  pas ngeliat dia itu kok ini anak lugu banget. Jujur gue penasaran sama ini orang karena gue diceritain waktu dia interview sama bos dan temen  kerja gue.  Gue rasa kalo dia baca ini juga paham. Jadi gue penasaran seperti apa sih sosok makhluk yang dibicarakan di kantor setelah interview. Ternyata inilah orangnya. JENG JENG JENG.

Singkat cerita, akhirnya gue lebih mengenal dia. Terlepas dari urusan kerjaan. Di mata gue dia anak yang sangat baik, anak yang ngga neko-neko, sederhana walaupun sebenernya bisa dibilang dia sanggup liburan di maldives  semiggu sekali. Suka nolong orang tanpa pamrih, Anaknya tuh ikhlas bangeeeet di apain juga. Salut sih gue sama nih orang. 

Jujur, untuk orang di muka bumi yang seperti dia bisa dibilang dia tergolong manusia langka dengan kepribadian seperti itu. Apa di awetin aja yah lu dik. Wkkw

Eits, tapi dia juga ada kurangnya.  Dari sekian kekuranganya dia sih ada satu sifat dia yang sering bikin gue kesel sampe sekarang, yaitu baca chat whatsapp. Ini orang kalau misalnya kita nge-chat hari ini dia bisa bales dua hari kemudian, mungkin kalo bisa seminggu, seminggu kemudian baru dibales. paling cepet 2 jam lah.  Masih menjadi misteri sih kenapa dia bales lama banget. Hehe

Pertemanan gue sama dia juga bisa dibilang ngga semulus keliatannya. Gue sama dia pernah bersitegang karena sesuatu hal, pernah diem-dieman, pernah saling jaga jarak satu sama lain. Tetapi selalu sih sifat dewasa dia yang buat gue belajar sampe sekarang. Dia lebih memilih untuk selalu mengalah dan minta maaf duluan, yah walaupun kadang bukan dia yang salah. Maafkan raisa ya huhu.

Oiya, gue punya panggilan loh buat dia,yaitu Adik Langit dan Pot Bunga. Kenapa gue sebut demikian? Pertama, gue manggil dia Adik langit. Gini ceritanya, jadi gue sama dia pernah naik motor boncengan, kita saling curhat tuh satu sama lain, tetiba dia agak melow dan mengeluarkan sedikit air mata. Tiba-tiba air hujan turun dong sederas-derasnya, kaya kesiram air seember. Spontan gue bilang, 'lu anak langit yah ya, masa lu nangis, langit ikutan nangis juga'. Alhasil kita basah kuyup sambil ketawa bodoh. Lucu kalo diinget lagi. Hehe.

Kedua, Pot bunga, kalo ini ngga tahu kenapa, gue pengen aja. Wkk

Salah satu hal yang bikin gue sedih adalah ketika dia resign dari kantor. Walaupun selama masa-masa terakhir dia dikantor gue rada-rada sok kuat, tapi sebenernya gue sedih sih ya, karena gue ngga punya temen curhat dan sharing pikiran lagi.

Dia sosok teman yang bisa jadi pendengar yang baik. Biasanya nih kalo banyak yang pengen dicurhatin kita berdua duduk-duduk di trotoar, sambil minum kopi murah dan jajanan kaki lima sebatas buat ngobrol-ngobrol aja dan saling cerita satu sama lain. Dia itu teman yang selalu bisa menghibur gue dan selalu biikin gue kuat lagi.  Kangen nih gue ya :)

Buat gue yang susah untuk membagi pikiran gue ke orang lain, dia salah satu orang yang berhasil membuat gue bisa jadi diri sendiri sih saat sama dia. Kadang gue rasa dia rada ilfeel sama gue. Hahaha

Banyak sih yang pengen gue ceritain tentang dia. Tapi buat gue cerita ini sudah cukup mewakili tentang dia.  Gue berterima kasih karena dia ada didunia untuk mewarnai kehidupan gue. Terharu ngga lu ya? hehe

Sekarang jam 00.00. Orang yang daritadi gue ceritain itu namanya Yaya. Tulisan ini gue dedikasikan buat dia karena doi lagi ulang tahun hari ini. Selamat ulang tahun , Yayaa!!!

Pokoknya gue berharap yang terbaik buat lu yah adik. Gue sih percaya semesta akan memberikan rencana indah buat lu, karena lu orang yang layak dapetin hal itu.

                                                                                                                        
                                                                                                                              HAPPY YAYA DAY!!!


                                                                                                                                     Much Love,


                                                                                                                                          Raisa,          



Sabtu, 25 Januari 2020

Hilang

Hidup itu lucu ya, kau tidak akan tahu dengan siapa kelak kau akan membagi tawa dan tangismu.

Dihadapkan dengan perpisahan dan kehilangan sungguh suatu hal yang berat buat saya. 

Saya tahu bahwa dalam hidup kau akan bertemu dengan banyak orang, dan diantaranya semesta akan membawa mereka kepadamu untuk menjadikannya temanmu atau pelajaran hidupmu.

Tetapi bukan semesta namanya kalo tidak maha bercanda. Kali ini ia membawa saya pada bercandaannya yang tidak lucu.

Saya kehilangan lagi. Kehilangan teman. Ia yang saya anggap berbeda dari yang lain. Yang saya anggap bisa saya percaya, ternyata tidak menganggap saya demikian. 

Saya patah. Bukan karena ia tidak menganggap saya teman, bukan karena perlakuan ia di belakang saya. Tapi saya tahu bahwa saya sudah kehilangan satu orang berarti dalam hidup saya.

Saya orang yang tidak siap dengan rasa kehilangan, walaupun saya tahu bahwa tidak selamanya kita bisa bersama orang-orang yang kita cintai. Tetapi perpisahan seperti apapun itu saya tidak siap. Karena saya tahu bahwa saya akan kehilangan hadirnya, dan segala sesuatu tentang dia dan saya. Pada akhirnya saya akan patah lalu mati-matian berusaha menerima dan setelah itu  merelakannya.

Tetapi saya tahu, semesta itu adil. Ia akan menggantikan apa yang hilang. Walaupun berbeda maknanya. Saya percaya itu jauh lebih indah.

Terima kasih ya, sta.




Kamis, 01 Agustus 2019

02 Agustus

Dear papa,

Tanggal ini selalu mengingatkanku tentangmu.

Tentang wajahmu, suaramu, senyummu, tertawamu, bahkan semua tentangmu.

Saat kau berulang tahun, aku selalu memandangi langit. Menitipkan rinduku pada Tuhan untukmu.

Saat aku dalam masa terbaikku, atau bahkan disaat terpurukku.

Aku selalu menutup mata, dan membayangkan kau duduk disampingku.

kita berdua saja.

dan akhirnya kau akan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Ayah,

Terima kasih untuk semuanya,dan selamat ulang tahun.

Kau akan tetap dan selalu menjadi Ayah yang terbaik untukku.

Aku merindukanmu.

Selalu.





Senin, 01 Juli 2019

SENJA KEDUA


Sore kemarin, Adela bertemu dengan senja.
Tepatnya, senja keduanya,
Senja pertama sudah ia sapa pada pukul empat kemarin.
Adela berkata pada senja pertama. Apakah sore ini ia akan bertemu dengan senja kedua.
"Kita lihat saja nanti' ujar sang senja pertama.

1 Jam berlalu...

Adela terpaku.
Matanya berbinar melihat senja kedua di hadapannya.
Jemarinya tengah memainkan musik syahdu.
Semesta mengabulkan permintaanya.
Detik berhenti untuk sejenak.
Membiarkan senja yang ia rindukan menari-nari di pikirannya.
dan kali ini dengan melodi.

Hati Adela hangat, ia bahagia.



Sabtu, 27 April 2019

Surat Untukmu, Kakek-ku.

Teruntuk kakek,

Hai kek, Apa kabar? Bagaimana diatas sana? Apa kau bertemu dengan Ayah. Disana pasti menyenangkan.

Kali ini aku ingin menulis surat untukmu, Karena aku sangat merindukanmu. Walaupun dulu kita tidak terlalu sering bertemu, dan aku hanya mengenalmu sampai saat aku SMP.

Tetapi kau tahu, aku hampir semua tentangmu. Tentang kepribadianmu, tentang caramu menjalani dan bertahan hidup, tentang bagaimana kau berfikir dan memutuskan sesuatu.

Ah, kakek pasti sudah bisa menebak, darimana aku bisa tahu semuanya itu.

Iya, Ibu yang menceritakan semuanya kek.    Hampir beberapa waktu kami berbicara tentangmu. Dan yang aku tahu, Ibu pun sangat merindukan sosokmu.

Kek, aku menyesal tidak bisa berbicara banyak denganmu. Andai kau masih ada, aku pasti selalu sharing denganmu. Aku ingin bertukar pikiran tentang hidup, tentang sejarah, dan tentang semuanya. Karena Ibu bercerita bahwa kau adalah sosok yang cerdas dan berwibawa.

Aku juga tahu dari Ibu bahwa kakek juga suka menulis. Aah, aku ingin sekali membaca semua tulisanmu.

Kek, terima kasih sudah membagi semua cerita hidupmu melalui Ibu. Kelak, ketika aku memiliki anak. Aku pasti akan menceritakan hal yang sama tentangmu pada cucumu nanti. Seperti yang Ibu lakukan.

Karena kau sumber inspirasiku.

Tenang dan berbahagia disana ya kek, suatu kelak kita pasti akan bertemu kembali.

Dari cucumu, yang selalu jadi penggemar beratmu.

Lia.

Minggu, 06 Januari 2019

Hello 2019!

Selasa, 16 Oktober 2018

20:56

Sudah lama tidak bercengkrama pada bulir hujan.
Pada desau angin.
Pada langit sore.
Dan pada pendar lampu jalanan malam hari.
'Kau begitu sibuk', tanyanya
'Apakah realita sudah membungkammu?' Ujarnya kembali.

Ah,
Dasar pengkhianat.

Minggu, 16 September 2018

Senja sore ini.

Sore ini senja tidak menampakan ronanya.

Beberapa manusia kecewa karena tidak bisa melepas penat lewat senja, tapi beberapa yang lain tak peduli. Apa gunanya lama-lama melihat senja? Tidak ada apa-apa disana, katanya.

Aku terduduk di dalam sebuah angkutan umum. Tidak sendiri, Pak supir didepanku menunggu penumpang dengan sabar, sembari menghisap sebatang rokok yang baru saja dibelinya. Disebelahku ada seorang pemuda berpakaian rapi, tampak  sesekali mengecek dawainya. Apakah ada sesuatu yang ia tunggu-tunggu muncul disana.

Diluar, tampak beberapa pekerja yang asyik menikmati makanan yang tersedia didepannya. Sesekali menarik nafas, bersyukur sudah melewati hari ini dengan baik. Disamping nya tampak seekor anak kucing menatap penuh lapar kepada pekerja itu, berharap ada remah yang terjatuh.

Senja memang menjadi tempat bagi sebagian orang untuk pulang.  Sebagian lagi menjadikan senja sebagai jeda, mengistirahatkan badan sejenak, lalu melanjutkan kegiatannya. Ada juga yang menjadikan senja sebagai permulaan, awal ia keluar untuk memulai harinya.

Entah bagaimana cara senja bekerja, aku selalu suka kala senja datang.
Ia selalu mampu membuat orang terpana, dengan hanya melihat biasnya saja.

Itu hidup, Tuhan terlalu baik membuat senja sebagai cara agar Manusia dapat bersyukur. Tetapi terkadang kita malah terlalu sibuk, acuh, bahkan tak perduli.

Pagi di Dua Belas Agustus

Pagi itu, ketika langit masih meronakan warna merah muda kebiru-biruan, dan matahari masih enggan menampakan dirinya.

Aku diberikan 'hadiah' oleh semesta.

Disaat dan untuk pertama kalinya, aku dan kau, kita pada akhirnya bisa saling berjabat tangan, mata kita saling bertemu lalu sama-sama melemparkan senyum.

Walaupun hanya sedetik.

Buatku, rasa bahagia itu sudah cukup untuk selamanya.

Terima kasih ya.

Minggu, 02 September 2018

Kelana

Kepalaku kelana,

Ia pergi. Menjauh dari raga yang ada.

Terbang, bertamasya, melintasi cakrawala.

Menembus batas imaji yang seolah nyata.

Mencoba menerka angan dan asa.

Memastikan realita tak pernah ada.

Menikmati rasa, karsa, serta udara.

Bebas.

Menggantung mimpi pada semesta.

Yang tak pernah salah menggariskan rencana.

Berdamai pada duka serta lara.

Kepalaku kelana,

Entah pulang, Ia menjelma menjadi apa..

Senin, 06 November 2017

Jumpa

Senja terlewat beberapa masa.

Rindu pun menyepah melalui aksara.

Menunggu pertemuan yang meluruhkan semua rasa.

Lalu, kamu pun tiba didepan mata.

Seperti biasa.

Aksaraku mati ditatapan pertama.

Jumat, 08 September 2017

Dengan Melupakanmu

Seandainya kita boleh bercakap-cakap sejenak. Tentang kau dan aku. Juga tentang perasaan kita yang kian sepuh karena waktu.

Bagiku, tidak ada hal yang lebih indah selain jatuh cinta kepadamu. Pada rasa yang terduga, juga tak terencana.

Telah kuaminkan setiap doa disetiap tidur malamku.

Telah kuharapkan setiap mimpi indahku berisi kamu.

Tapi, kau tahu tidak semua amin berujung nyata. Terkadang harap berpangkal semu.

Apa kau percaya, Tuhan turut serta dalam setiap perasaan kita.

Dan Ia ternyata ingin membuatku bahagia dengan cara lain.

Ya,
Dengan melupakanmu...

Rabu, 06 September 2017

21:48

Salah satu impian saya kelak ketika saya mempunyai anak adalah memberikan dia nama yang ada unsur sastra-nya. Kalau perempuan, ia akan saya beri nama 'Lanaia Sastra Kavindra' kalau laki-laki. Hmm, saya belum kepikiran sih. Hehe

Kenapa sastra? Ya, itu karena kecintaan saya akan sastra, tulisan, dan segala yang berhubungan dengan kata-kata, puisi, sajak, dan yang lainnya. Satu yang saya sayangkan adalah banyaknya generasi sekarang yang melupakan para pemikir hebat dan penyair dulu. Makin ke sini, makin banyak saya temukan generasi yang mencintai suara dan gambar sehingga malas untuk membaca. Efeknya adalah betapa minim penggunaan kata dalam percakapan sehari-hari. Nah, saya ingin anak saya kelak adalah sosok yang juga luas dalam berkata-kata serta tidak henti mencari makna. Sosok yang.... cerdas.

Ya, jadi kurang lebih begitulah kerinduan saya kelak ketika saya mempunyai anak.

Hehe, asli. Ini postingan random banget malam-malam. Akibat Isi kepala saya yang lagi ramai, jadi saya tumpahkan dalam bentuk postingan. Pengen tidur, tapi belum ngantuk. Baiklah. Sekian.

20:02



Hidup manusia seperti mengendarai kereta.
Mengikuti alur yang sudah ditetapkan.
Duduk nyaman di dalamnya dengan sesekali melihat pemandangan di luar.
Hanya tahu apa yang ada di dalam gerbong, tanpa menyadari bahwa ada harta karun tersimpan di luar.
Tidak berani menjelajah, karena terbiasa dengan kenyamanan yang tercipta.
Sedikit orang yang berani melompat turun dari kereta, menjelajahi, dan menemukan hal baru serta kemudian menciptakan alurnya sendiri. Berjalan, berlari, menari, terjatuh, tertawa, kemudian bangkit lagi. Tidak takut menghadapi apa yang di depan, karena tahu Siapa yang ada di balik ini semua.
Kehidupan adalah karya seni terbesar Tuhan. Kita diberi hak istimewa untuk berkolaborasi denganNya, menciptakan satu bagian karya sesuai dengan keunikan personal kita.
Sayangnya segala aturan disodorkan mereka dan perlahan menyeragamkan kita. Tanpa mengetahui apa yang diinginkan, kita terus berusaha jadi yang lebih baik dan terbaik sesuai yang didefinisikan orang lain.
Norma, moral, prinsip, dan sikap kita dibentuk bukan dari pengalaman spiritual kita sendiri. Kita didikte. Kita terbiasa diberi tahu apa, tanpa tersadar ada begitu banyak mengapa dan bagaimana di baliknya. Kita adalah generasi yang begitu takut buat melakukan kesalahan hanya demi mengejar sebuah kesempurnaan palsu yang didefinisikan orang lain.
Menjadi dirinya sendiri adalah salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan seorang manusia. Menghidupi suara hati dan rasa ingin tahunya. Bangga akan kelebihannya dan menerima kekurangannya sendiri. Mencoba ini-itu. Menertawakan kesalahan yang dibuat. Mencoba lagi. Menjadi lebih baik. Lebih luas. Lebih hidup. Lebih nyata, bukan sekedar bayangan.
Menciptakan karya seninya sendiri.


Sabtu, 12 Agustus 2017

15.42



Betapa menyenangkannya diterima oleh sekitar kita. Rasa penerimaan itu begitu candu sehingga banyak orang melakukan segala hal supaya diterima. Berubah, menyesuaikan, atau mungkin meniru. Yang miris adalah kalau pada akhirnya kita diterima oleh sekitar bukan karena hal yang sejatinya kita ingin diterima mereka.

Saya pernah berusaha begitu rupa supaya diterima, berlaku sedemikian rupa yang sebetulnya bukan sepenuhnya saya suka dan inginkan. Rasa senang ketika diterima mengalahkan kejujuran terhadap diri sendiri. Saya kira mereka dan saya akan senang kalau saya seperti mereka.

Perlu suatu perjalanan untuk mengalahkan rasa tersebut dan membiarkan kejujuran bermain peran. Perjalanan yang tidak singkat. Perjalanan yang melelahkan, tapi layak ditempuh, supaya pada akhirnya saya berada di tempat yang dengan sepenuh hati saya cintai. 

Saya punya rute saya sendiri. Kamu pun. Kita semua sama. Melangkah dan menari untuk menghasilkan suatu tarian yang memang paling sesuai dengan gerakan kita sendiri. Temukan dan bawa ceria untuk semua.

Jalan saya mungkin tidak seperti banyak orang. Pilihan saya mungkin dianggap begitu aneh. Tidak ada yang salah, mereka maupun saya. Semua hanya soal masing-masing diri. Bagaimana setiap orang punya karya akan hidupnya sendiri. Tidak selalu logis, tidak selalu sedap dipandang, tidak selalu sesuai dengan selera orang banyak, tapi yakin lah masing-masing punya maknanya tersendiri. Termasuk saya.

Memutuskan untuk berbelok, menempuh jalan baru, dengan lebih jujur. Lebih berani. Berdiri untuk berkarya dari diri sendiri. Bersuara. Berpendapat. Bukan untuk mencari perhatian dengan sengaja berbeda, tapi untuk menyampaikan suara dari hati yang apa adanya.


Senin, 24 April 2017

CERITA KOTA II



Bis itu melaju perlahan mengikuti irama macet di waktu pertang. Ada Adela duduk di dalamnya. Tangannya memangku dagu sementara matanya memperhatikan dari balik jendela.

Seorang pemulung berjalan kaki membawa karung di bahunya. Baju lusuhnya kontras dengan para karyawan yang berkemeja rapi yang lalu-lalang. Sesekali tangan keriput dan kotor itu mengusap peluh. Lelah. Tapi ada keluarga yang lapar. Hanya dua, tetap berusaha atau tidak makan.

Disisi lain, seorang pengemis duduk. Merapikan selendang lusuhnya sementara si anak yang selalu digendong ke mana-mana asik bermain dengan gelas plastik. Mata si ibu menatap kosong ke langkah para pejalan kaki yang dihiasi oleh sepatu mahal. Berandai-andai kapan ia bisa memiliki sepasang.

Adela sesak. Dia tidak suka melihatnya. Negara ini kaya akan perbedaan tapi miskin solidaritas. Tidak ada lagi berbagi. Kenikmatan hidup itu sebenernya bergantung pada manusianya, tapi miris, manusia lebih suka menciptakan neraka.

Manusia kadang suka lupa posisinya. Mereka bukan Tuhan. Merasa ada hak untuk menginjak sesamanya atas nama kepuasan pribadi kah? Manusia itu setara. Tuhan yang diatas.

Senyum sini terukir di wajah Adela. mendengus.

Mereka yang kaya dengan rakus mengumpukan harta dan mengukir sesuatu yang mereka anggap kesuksesan. Tak peduli berapa jiwa terinjak, berapa tangis terdengar, dan berapa nyawa tersiksa.

Berebut untuk menjadi nomor satu. Berebut menggantikan posisi Tuhan.

Apa mereka lupa bahwa Tuhan tidak kenal kata pensiun?

Bis itu melaju perlahan.

 ***


The glory of the past, had gone to underground, and people just forgot.
Some people try hard, to wake up in this age to take back their life.

And this 'normal' rule, I just cant believe that was so cruel.
Some people get slaved, the field just like graveyard of all desire.
The boss always said, "come and get your needs in my corporate.
To be tired by works and live within' emptiness (I mean) lonely heart,

Dont be blind.

Let's stop the works in their fields now. perfect sky.

Unperfect sky- Elemental Gaze feat Sight Tigapagi

Sabtu, 01 Agustus 2015

Cerita Tentang Mak Enjum :)


Saya lahir di Garut, tepatnya di Asrama militer Yonif 303, Desa Cibuluh, Cikajang. Sewaktu saya lahir dan sampai menginjak usia 7 tahun, saya punya perawat yang ngasuh saya, namanya Mak Enjum. Sebenernya menurut cerita mama, Mak Enjum udah tinggal dan kerja dirumah kami sebelum saya lahir. Baiklah :)

Mak Enjum tinggal di 'lembur' deket asrama, beliau tinggal bersama anaknya, namanya Bi Inah, juga menantu, serta cucunya. Suami Mak Enjum udah lama meninggal. Waktu itu usia Mak Enjum udah diatas 50 tahun. Jarak rumah Mak Enjum deket dari asrama kami, makanya saya sering banget main  kesana. Walaupun Mak Enjum kerja dirumah, tapi beliau udah saya anggap seperti nenek saya sendiri, makanya setiap pergi kemana-mana, Mak Enjum selalu ikut.

Mak Enjum ini selalu manggil saya dengan sebutan 'neng'. Beliau seorang yang penyabar banget, rajin, selalu bangun pagi, dan suka kerja keras, pinter masak, dan yang paling penting, mak enjum ngga pernah ketinggalan sholatnya. 

Mak enjum juga suka banget 'nyirih', sama kaya opung saya. Mungkin karena faktor usia ya, katanya mereka nyirih buat menguatkan gigi, biar ngga cepet ompong. hihi. Jadi, setiap mak enjum udah  ambil ancang-ancang mau nyirih nih, saya selalu ngikutin dia, terus saya yang nyiapin rempah-rempah buat dia nyirih, dan biasanya saya ngeliatin mak enjum ngunyah sirihnya sampe habis dan ngga jarang, beliau juga selalu nunjukin gigi-nya yang berwarna merah, karena sisa sirihnya sambil ketawa sama saya. hehe 

Mak enjum adalah orang yang selalu membela dan ngga tegaan saat saya, abang-abang, atau adik saya lagi dimarahin atau dihukum sama mama karena kenakalan kita. Beliau pasti selalu bilang ke mama kaya gini : "neng, karunya atuh neng?" artinya : kasihan itu, neng'.  Jadi, bisa dibilang dulu kita agak lega kalo ada mak enjum. haha

Sewaktu di Garut, mama dipercayakan untuk ngurus kantin di asrama, selain itu kita juga bikin usaha kue bolu kukus, donat cokelat, dan es kacang ijo, dan itu semua selalu dianter ke kantin, sama diwarung-diwarung deket asrama. Nah, Mak Enjum ini yang jadi bagian nganter dan ngambil ke warung. Pagi-pagi mak enjum nganter makanan ke warung-warung, dan sebelum maghrib biasanya mak enjum ngambil sisa dagangan lagi kesana.

Saya paling getol kalo udah ikut sama mak enjum ngambil sisa-sisa dagangan, kadang beliau selalu nolak saya sih kalo saya minta ikut, katanya takut saya masuk angin, dll. tapi, setelah saya merengek, ahirnya mak enjum pun luluh.  Letak asrama kami  masih berada di kaki gunung papandayan, dan sudah pasti udaranya dingin . Makanya, dagangan harus diambil sebelum maghrib, biar ngga terlalu dingin, dan biar mak enjum ngga ketinggalan sholat juga.

Warung-warung deket asrama kami jaraknya lumayan agak jauh, ada yang dibawah lembur, ada yang deket sekolah, ada yang deket lapangan bola, dan itu semua kita tempuh dengan berjalan kaki. Kebanyakan dagangan yang tersisa itu es, jadi kalo kita liat masih ada sisa, biasanya saya sama Mak enjum yang abisin sambil jalan balik ke rumah sambil bercanda.

Banyak kenangan indah saya sama Mak Enjum, tapi kenangan yang paling menyedihkan adalah ketika kami sekeluarga harus pindah ke Jakarta, karena papa dipindah tugaskan kesana, mau ngga mau kami pindah. Seinget saya, waktu itu saya nangis ngga berhenti, karena saya ngga mau pindah ke Jakarta dan karena Mak Enjum ngga bisa ikut sama kita. Mama bilang, waktu itu Mak Enjum ngga bisa ikut, karena faktor usianya yang udah ngga kuat pergi jauh, dan dia juga ngga bisa ninggalin keluarganya disana. Akhirnya, memasuki tahun 2000-an kami pindah ke Jakarta, tanpa mak enjum :(

Saya nulis ini karena saya kangen dan teringat sosok beliau. Semenjak kami pindah  ke Jakarta, kami jarang berhubungan lagi sama Mak Enjum. Itulah sebabnya kota Garut punya tempat tersendiri di hati saya, selain saya lahir disana, saya juga punya Mak Enjum. Saya selalu pengen ke Garut lagi, tapi belum ada kesempatan. Malahan abang saya yang udah bernostalgia duluan kesana.

Sewaktu abang saya di Garut, dia mampir kerumah Mak Enjum. Katanya rumahnya masih sama, dan Mak Enjum masih sehat walaupun pendengarannya sedikit terganggu. tapi katanya, mak enjum masih kenal, dan nanya kabar kami semua. Saya nangis ketika abang saya cerita, sedih karena saya belum ada kesempatan kesana, sekaligus bahagia denger kabar mak enjum yang masih sehat.

Sehat-sehat terus ya mak. Kita sayang mak enjum :)


Kamis, 18 Juni 2015

21:50



Setiap orang yang berjiwa besar punya kisah dibelakang layar yang berantakan. Mereka pernah takut, kuatir, ragu, dan menangis. Mereka pernah berjalan didalam kegelapan yang seakan tanpa akhir. Mereka pernah terintimidasi. Mereka pernah jatuh. Mereka pernah kehilangan makna hidup. Mereka pernah merasa bahwa mereka hanyalah orang-orang yang bermimpi terlalu muluk.

Hanya saja mereka tidak pernah berhenti berjalan atau bahkan merangkak. Mereka tidak pernah berhenti bergerak maju. Mereka memacu dirinya sendiri untuk terus berjalan dengan penuh harapan. Mereka berjuang sendiri dengan segenap kekuatan yang mereka punya untuk selalu berada dalam ritme yang benar.

Didalam hening mereka berteriak, didalam hening mereka menangis, didalam hening mereka mereka-reka dan mencari jawaban. Tidak banyak yang tahu kisah dibelakang layar ini, karena yang terpenting bukan pengakuan dan simpati dari orang lain, melainkan hubungan yang personal dengan penciptanya.

Minggu, 17 Mei 2015



Di sebelah kiri dia tidak ada. Dia juga tidak terlihat di sebelah kanan. Mata saya tetap mencari potongan dari surga yang jatuh ke bumi itu.

Ke mana? Hilang begitu saja dan saya hanya bisa menatap lama.

Sepi dan bisa mendengar detak jarum jam di ruang ini. Kosong. Jutaan manusia tidak ada artinya bagi mata saya yang hanya mau melihat kamu.

Sampai kapan, tidak ada yang tahu. Hanya saja semoga tidak lama.


Sabtu, 09 Mei 2015

16:35



Saat ini saya lagi me-time, mendengarkan lagu di kamar dengan playlist acak dan secangkir kopi. Menyenangkan.

Sebenarnya saya sudah lama membiasakan me-time ini, karena saya sadar saya butuh waktu saya sendiri untuk mengisi ulang 'tabung energi' emosi. Akhir-akhir ini saya pun kekurangan waktu untuk itu, mungkin hampir ngga ada.

Dan weekend ini saya punya kesempatan untuk mengisi ulang 'gelas' emosi saya. Walaupun inginnya menjauhkan handphone dan mengunci pintu kamar tapi tetap saja saya ngga bisa egois kan. Saya punya beberapa hal untuk dikerjakan dan juga berinteraksi dengan orang lain.

Me-time bisa dibilang sebagai waktu heningnya saya. Membuat saya memikirkan kehidupan yang sudah saya jalani, mengingatkan kembali siapa diri saya sendiri, dan dimana 'rumah' saya. Membuat saya ingat kepada hal-hal yang esensi, dan mengingatkan saya akan kemampuan dan identitas diri saya.

Waktu hening itu penting, tapi bukan artinya kita menjauhkan semua orang disekitar kita. Waktu hening itu  menurut saya artinya kita berpamitan dengan sopan dengan orang-orang disekitar kita, lalu masuk ke kandang sendiri. Setiap orang punya tanggung jawab, baik pekerjaan maupun peran. Sebutuh apapun kita akan waktu hening itu, semua tanggung jawab tetap harus dilaksanakan dengan baik.

Jadi intinya adalah, tahu batasan diri sendiri, sejauh mana kemampuan kita. Mengatur skala prioritas dan memastikan setiap hal berjalan dengan baik adalah salah satu tolak ukur kedewasaan. Memenuhi segala yang esensi supaya 'bensin' terisi buat mendorong diri menyelesaikan tanggung jawab kemudian membatasi dan mengontrol diri supaya punya waktu yang cukup untuk kembali mengisi 'bensin' tersebut.


 

Template by BloggerCandy.com