Selasa, 24 Desember 2013

Christ Is For Christmas :)


Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Ia bukanlah seorang yang kikir, melainkan seorang yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Namun ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Ia sungguh-sungguh tidak percaya. "Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih," kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja. "Tetapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya ".

Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian malam Natal di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka. "Saya tidak mau menjadi munafik," jawabnya. "Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggu sampai kalian pulang."

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

"Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini," pikir pria itu. "Tetapi bagaimana saya bisa menolong mereka?"

Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Namun burung-burung itu tidak mau masuk ke dalam. "Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk," pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tetapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak juga menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Pria itu mencoba menggiring mereka, tetapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, dan malah menjauhi kandang yang hangat itu. "Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri, "dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Saya ingin sekali menolong mereka. Saya mengasihi mereka. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat menolong dan membawa mereka pada tempat yang aman."

Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, "Sekarang saya mengerti, Tuhan", bisiknya dengan terisak. "Sekarang saya mengerti mengapa ENGKAU mau menjadi manusia."

Ketika saya membaca kisah ini, saya begitu tersentuh dan kembali merenungkan betapa besarnya kasih Tuhan dalam hidup kita. Mengapa Tuhan mau menjadi manusia - sama seperti kita, bahkan menderita untuk kita? Tuhan tidak lemah. Tuhan bukannya tidak berdaya. Justru Tuhan memiliki KUASA yang melebihi batas akal pikiran manusia. Tuhan yang rendah hati, tidak gila hormat dan kuasa. Tuhan yang memiliki HATI SEBAGAI HAMBA, mau lahir ke dunia, melayani, mengasihi dan menyelamatkan manusia untuk kemuliaan Bapa di Surga.

Natal bukanlah sekedar pohon Natal dengan hiasannya yang mewah. Natal bukanlah sekedar lampu-lampu di pusat perbelanjaan - di jalan-jalan raya, baju baru, kue-kue, tukar kado, dan Santa Claus. Semua itu perlu untuk membangun suasana Natal yang indah, dan saya yakin kita semua menyukainya, Tetapi yang terpenting ialah bahwa Natal ialah perwujudan Yesus sendiri. Bagaimana Yesus ingin kita memaknai Natal yang sesungguhnya. Ada sepenggal quote yang berkata demikian.. "Orang yang benar-benar buta ialah mereka yang tidak bisa merasakan Natal di dalam hatinya.."

Oleh karena itu, bukan harta, bukan segala kemewahan yang Ia cari, melainkan Hati kita. Hati yang mau berbagi dan memberi kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita, seperti yang sudah Ia lakukan dalam hidup kita. Untuk itulah Yesus lahir, bukan untuk yang lain.

Christ is for Christmas! Only Him!

Senin, 25 November 2013

Thankyou Teacher :)


"A truly special teacher is very wise, and sees tomorrow in every child's eyes. Because for them, to teach is to touch other lives, ever." - Anonymus

Mencintai bukanlah hanya memuji saat seseorang berhasil atau melakukan kebaikan, namun juga meyakinkan saat ia kehilangan kepercayaan diri, menenangkan saat ia merasa ketakukan, menegur saat ia berbuat salah, menyemangati saat ia kehilangan harapan, membangun saat ia butuh motivasi, dan terlebih dari itu.. menjadi sahabat - tempat berbagi suka dan duka.

Dengan sebuah komitmen untuk berkorban dan hati yang penuh cinta, mereka menaburkan kasih dalam segala hal yang dilakukannya. Mereka membantu mewujudkan mimpi para murid untuk mengubah dunia melalui hidupnya, ilmu dan pengalaman yang mereka bagikan. Mereka tak henti-hentinya memberikan semangat dan motivasi untuk terus belajar dan berjuang, berusaha tanpa kenal putus asa.

Hal-hal tersebut sungguh tak ternilai harganya. Tidak dapat dibeli dan dibayar dengan apapun juga. Mereka melakukan tugasnya dengan sepenuh hati, dengan kasih dan ketulusan. Merekalah pahlawan yang tak kenal musim.  Merekalah yang telah menjadikan kita who we are today. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Happy Teacher's Day!
Selamanya kalian dihati :)


Rabu, 06 November 2013

Don't Judge!


Seorang mahasiswi berjalan cepat di jembatan penyeberangan. Tergesa-gesa menuju kampus, mengingat belum ada materi ujian yang ia pelajari. Semalam ia nyaris tidak tidur. Ada telepon yang mengabari bahwa rumahnya baru saja kemalingan. Ibu masih terguncang dan sering pingsan. Uang untuk operasi usus buntu adik yang baru diambil dari bank pun tidak luput dari tangan si jahat. Andai ayah masih ada, ibu tidak perlu sendirian menanggung segalanya.
Perutnya berteriak kelaparan, tapi uang hanya cukup untuk makan sekali nanti siang. Jatah ongkos untuk angkot pun habis, diganti dengan jalan kaki dari kost menuju kampus.
*
Ibu pengemis tua duduk di sisi jembatan penyeberangan. Sesekali merapikan koran alas duduknya. Teringat anaknya yang terbaring di rumah, demam sudah 3 hari. Tidak ada obat, hanya air putih dan kain hangat basah untuk mengobati. Badannya lelah, semalam menjual pecel di stasiun hingga subuh. Sekarang menyempatkan mengemis sebelum kembali memulung.
Matanya menatap kosong orang-orang yang berlalu-lalang. Hampa.
*
Mahasiswi itu melihat ibu tua yang mengemis dari jauh. Ingin memberikan uang tapi tidak ada tersisa. Lagipula, pengemis seperti itu hanya malas, bisa bekerja tapi lebih memilih duduk santai menanti uluran tangan memberi uang, pikirnya. Payah.
Ia pun berlalu tanpa memandang.
*
Pengemis itu memalingkan muka. Dasar, perempuan angkuh. Ia kaya, kenapa tidak mau berbagi. Sedikit saja, tidak rugi apapun. Masih bisa kuliah dan pulang ke rumah nyaman dengan anggota keluarga sehat tapi tidak sedikitpun mau berbagi, pikirnya. Sombong.
Ia pun mendengus kesal.
**

“With the tremendous acceleration of life, we grow accustomed to using our mind and eye for seeing and judging incompletely or incorrectly, and all men are like travelers who get to know a land and its people from a train.” - Friedrich Nietzsche in Human, All Too Human

“Do not judge, or you too will be judged." -Matthew 7:1


Selasa, 05 November 2013

Sore Itu




Tetesan air mungil dari langit terjatuh perlahan, tidak berniat untuk menyakiti. Kedamaian yang tercipta mengingatkanku akan sesuatu. Suaramu.

Gerimis kecil ini terjatuh lugu, tidak mengerti mengapa harus turun ke bumi. Ia hanya patuh. 

Mungkin di belahan bumi lain, ada mereka yang mengadahkan tangan ke langit dan syukur terbisik karena kehadiran si gerimis kecil.

Alunan merdu yang tercipta dari gerimis mengajakku berlari dan menari untuk meresapi setiap tetesannya, karena kesejukan yang dibawanya menyingkapkan memori terindah tentang kehadiranmu. 

Ingin aku meleburkan diri dengan tetesan hujan, biar mereka yang mengantar aku dan membisikkan rindu ini kepadamu. 

Hujan berakhir dan membawa dingin. Dingin yang tidak menggigit, dingin yang lembut, dingin yang seolah mengajariku bersyukur untuk setiap lukisan pelangi di kanvas langit. 

Pelangi ini membawa damai. Begitu juga tatapanmu. 

Apa benar langit telah mengangkatmu menjadi anak? 

Hold On



Tuhan tidak tuli, Ia tahu apa yang sedang terjadi. Hold on, God knows what He's doing.

Jumat, 06 September 2013

Hujan



Bagiku, Hujan menyimpan senandung liar yang membisikkan 1001 kisah. Tiap tetesnya yang merdu berbisik lembut, menyuarakan nyanyian alam yang membuatku rindu mengendus bau tanah basah. Bulir-bulir yang jatuh menapak diatas daun, mengalir lurus menyisakan sebaris air di dedaunan. Sejuk, mirip embun.

Hidup seperti ini. Aku bisa merasakan senja yang bercampur bau tanah basah sepeninggal hujan. Seperti kanvas putih yang tersapu warna- warna homogen indah. Dentingan sisa-sisa titik hujan di atas atap terasa seperti seruling alam yang bisa membuatku memejamkan mata. Melodi hidup, aku menyebutnya seperti itu. Saat semua ketenangan bisa kudapatkan tanpa harus memikirkan apa pun.




-Ranggadipta  (Hujan Punya Cerita Tentang Kita)

Jumat, 05 Juli 2013

Little Things :)



(This story is being copied from a website)

Married or not, you should read this...

“When I got home that night as my wife served dinner, I held her hand and said, I’ve got something to tell you. She sat down and ate quietly. Again I observed the hurt in her eyes.

Suddenly I didn’t know how to open my mouth. But I had to let her know what I was thinking. I want a divorce. I raised the topic calmly. She didn’t seem to be annoyed by my words, instead she asked me softly, why?

I avoided her question. This made her angry. She threw away the chopsticks and shouted at me, you are not a man! That night, we didn’t talk to each other. She was weeping. I knew she wanted to find out what had happened to our marriage. But I could hardly give her a satisfactory answer; she had lost my heart to Jane. I didn’t love her anymore. I just pitied her!

With a deep sense of guilt, I drafted a divorce agreement which stated that she could own our house, our car, and 30% stake of my company. She glanced at it and then tore it into pieces. The woman who had spent ten years of her life with me had become a stranger. I felt sorry for her wasted time, resources and energy but I could not take back what I had said for I loved Jane so dearly. Finally she cried loudly in front of me, which was what I had expected to see. To me her cry was actually a kind of release. The idea of divorce which had obsessed me for several weeks seemed to be firmer and clearer now.

The next day, I came back home very late and found her writing something at the table. I didn’t have supper but went straight to sleep and fell asleep very fast because I was tired after an eventful day with Jane. When I woke up, she was still there at the table writing. I just did not care so I turned over and was asleep again.

In the morning she presented her divorce conditions: she didn’t want anything from me, but needed a month’s notice before the divorce. She requested that in that one month we both struggle to live as normal a life as possible. Her reasons were simple: our son had his exams in a month’s time and she didn’t want to disrupt him with our broken marriage.

This was agreeable to me. But she had something more, she asked me to recall how I had carried her into out bridal room on our wedding day. She requested that every day for the month’s duration I carry her out of our bedroom to the front door every morning. I thought she was going crazy. Just to make our last days together bearable I accepted her odd request.

I told Jane about my wife’s divorce conditions.. She laughed loudly and thought it was absurd. No matter what tricks she applies, she has to face the divorce, she said scornfully.

My wife and I hadn’t had any body contact since my divorce intention was explicitly expressed. So when I carried her out on the first day, we both appeared clumsy. Our son clapped behind us, daddy is holding mommy in his arms. His words brought me a sense of pain. From the bedroom to the sitting room, then to the door, I walked over ten meters with her in my arms. She closed her eyes and said softly; don’t tell our son about the divorce. I nodded, feeling somewhat upset. I put her down outside the door. She went to wait for the bus to work. I drove alone to the office.

On the second day, both of us acted much more easily. She leaned on my chest. I could smell the fragrance of her blouse. I realized that I hadn’t looked at this woman carefully for a long time. I realized she was not young any more. There were fine wrinkles on her face, her hair was graying! Our marriage had taken its toll on her. For a minute I wondered what I had done to her.

On the fourth day, when I lifted her up, I felt a sense of intimacy returning. This was the woman who had given ten years of her life to me. On the fifth and sixth day, I realized that our sense of intimacy was growing again. I didn’t tell Jane about this. It became easier to carry her as the month slipped by. Perhaps the everyday workout made me stronger.

She was choosing what to wear one morning. She tried on quite a few dresses but could not find a suitable one. Then she sighed, all my dresses have grown bigger. I suddenly realized that she had grown so thin, that was the reason why I could carry her more easily.

Suddenly it hit me… she had buried so much pain and bitterness in her heart. Subconsciously I reached out and touched her head.

Our son came in at the moment and said, Dad, it’s time to carry mom out. To him, seeing his father carrying his mother out had become an essential part of his life. My wife gestured to our son to come closer and hugged him tightly. I turned my face away because I was afraid I might change my mind at this last minute. I then held her in my arms, walking from the bedroom, through the sitting room, to the hallway. Her hand surrounded my neck softly and naturally. I held her body tightly; it was just like our wedding day.

But her much lighter weight made me sad. On the last day, when I held her in my arms I could hardly move a step. Our son had gone to school. I held her tightly and said, I hadn’t noticed that our life lacked intimacy. I drove to office…. jumped out of the car swiftly without locking the door. I was afraid any delay would make me change my mind…I walked upstairs. Jane opened the door and I said to her, Sorry, Jane, I do not want the divorce anymore.

She looked at me, astonished, and then touched my forehead. Do you have a fever? She said. I moved her hand off my head. Sorry, Jane, I said, I won’t divorce. My marriage life was boring probably because she and I didn’t value the details of our lives, not because we didn’t love each other anymore. Now I realize that since I carried her into my home on our wedding day I am supposed to hold her until death do us apart. Jane seemed to suddenly wake up. She gave me a loud slap and then slammed the door and burst into tears. I walked downstairs and drove away. At the floral shop on the way, I ordered a bouquet of flowers for my wife. The salesgirl asked me what to write on the card. I smiled and wrote, I’ll carry you out every morning until death do us apart.

That evening I arrived home, flowers in my hands, a smile on my face, I run up stairs, only to find my wife in the bed -dead. My wife had been fighting CANCER for months and I was so busy with Jane to even notice. She knew that she would die soon and she wanted to save me from the whatever negative reaction from our son, in case we push through with the divorce.— At least, in the eyes of our son—- I’m a loving husband….

The small details of your lives are what really matter in a relationship. It is not the mansion, the car, property, the money in the bank. These create an environment conducive for happiness but cannot give happiness in themselves. So do those little things for each other that build intimacy. Do have a real happy marriage!

Many of life’s failures are people who didn't realize how close they were to success, when they gave up."

Sometimes everyone is only trying to accomplish something big, and not realizing that life is made up of little things that matter. From this inspiring story, we're being remembered that it's the little things that matter the most in everyone's life. Let us appreciate, cherish and be grateful for every little thing. Even we don't realize or it may not seem like much, sometimes the little thing takes the biggest part in our life. :)

 

Template by BloggerCandy.com