Selasa, 11 Maret 2014
Wajah khasmu, terukir tawa di situ. Tak ada lagi mendung kelabu atau hujan karena matahari selalu hadir kini. Kau.
Rotasimu menarikku, menciptakan dunia yang hanya kita bisa memahaminya. Kau yang membuat aku yakin bahwa surga dunia itu ada.
Seperti mimpi, karena realita terlalu indah untuk dianggap nyata. Realita ini, kau dan aku.
Kita.
Rabu, 29 Januari 2014
Inilah Mereka ! :)
Hai! Postingan kali ini saya dedikasikan untuk teman-teman saya. Sebenernya saya udah lama saya pengen nulis tentang mereka. Tapi baru bisa kesampean sekarang! hehe
Jadi, ini adalah beberapa
dari sekian teman dekat saya di kampus, yang bersama mereka saya menghabiskan
waktu untuk belajar, bercerita, dan bercanda bareng!
Muthia Kanza - Yeni Indra Lestari - Ria Andriyani - Maya Zelikha
Ana Uli Simanjuntak - Latifah - Devi Marwati - Dian Andayani
Muthia Kanza
Panggilannya macem-macem,
ada yang manggil Muthia, Kanza, Kansah, Kanja. Saya biasa manggil dia ‘Za’ aja
sih. Perkenalan awal kita berdua itu waktu awal semester 1, jadi Kanza ini pas
awal-awal semester 1 selalu duduk didepan, dan jarang banget nengok-nengok ke
belakang, walaupun dibelakang ramenya segimanapun, pandangan dia tetap ke depan
hehe. Lucu kalo diinget lagi. Nah, jadi pas saya dapet kesempatan duduk
didepan, akhirnya kami pun berkenalan.
Kanza ini penggemar berat
Winnie the Pooh dan kawan-kawannya. Dia juga punya blog loh, bisa dilihat disini.
Bisa dibilang dia ini paling muda diantara kita-kita, tapi pemikirannya dewasa.
Temen saya yang baru berulang
tahun 15 januari kemarin ini adalah seorang penari tradisional dan punya suara
yang bagus, makanya dia sering ikut acara-acara dikampus. Selain itu, dia juga
berbagi ilmu dan pengalamannya dengan
mengajar anak-anak nari tradisional. Bangga deh punya temen kaya dia.
Kanza adalah partner saya
ngerjain tugas sampe larut malem via sms, contoh : kalo udah ngerjain akuntansi.
Kita bisa selesai ‘belajar bareng’ hampir jam 1 malem hehe. Seruu! Dia ini pinter
dan rajin. Saya paling seneng kalo cerita sama dia, karena itu tadi, selain dia
dewasa, dia bisa selalu kasih masukan yang baik buat saya
Satu lagi, dia ini orang
yang paling ‘ngeh’ kalo saya lagi asik candid-candid, dan dia sering juga jadi
korban ‘candid-an’ saya sih hehe. sorry ya za!
Yeni Indra Lestari
Panggilannya Yeni. Dia ini
asli orang jawa. Jadi jangan heran, kalo kita lagi ngumpul. Obrolan dia itu
kadang suka campur-campur, bahasa Indonesia dan Jawa. Saya kenal yeni juga
awal-awal semester 1. Dulu rambut dia pirang, tapi sekarang udah menghitam lagi
kok. hehe
Yeni ini penggemar dangdut
sejati. Hampir semua list lagu dihp-nya rata-rata lagu dangdut, jadi kalo ada
kesempatan,dia suka nyanyi sambil nari lagu dangdut. hahaha
Dia ini orangnya ngga mau
ribet, maksudnya kalo bisa dibikin gampang, ngapain dibikin susah. Dia juga
perhatian sama orang-orang disekitarnya dan temen yang paling enak buat diajak
tuker pikiran.
Yang jadi kebiasaan yeni
adalah, dia sering bawa makanan ke kampus, entah itu nasi uduk, gorengan, rujak
(makanan kesukannya dia), cemilan dll. Kadang untuk kita makan bareng-bareng.
Makasih yen!
Ria Andriyani
Panggilannya Ria. Yang satu
ini bisa dibilang temen saya yang paling ‘kocak’, Kenapa? Kadang kita ngeliat
mukanya aja udah lucu hehehe. Dia ini orangnya blak-blakan. Celetukan-celetukannya
yang suka spontan itu yang selalu bikin saya ketawa. Ria ini punya rasa percaya
diri dan narsis yang tinggi, jadi dimanapun dan kapanpun kalo kita lagi jalan
bareng, ada aja tingkahnya yang bikin kita ngakak.
Selain itu, dia ini punya
jiwa pebisnis dalam dirinya, kebukti disetiap kesempatan ada aja yang dia jual
di kampus, kadang sepatu, dompet, tas, dsb. Pecinta warna ungu ini juga penggemar sejati
lagu dangdut, sama kaya yeni. Bisa dibilang mereka berdua partner lah kalo soal
gituan.
Dia ini punya kebiasaan
unik, yaitu suka sms dengan tulisan yang singkat-singkat, contohnya kalo lagi
liburan kaya sekarang, dia suka sms saya dengan tulisan, 'bĂȘte' Udah itu aja!
Haha.
Tapi diluar semua
kekonyolan dan kekocakannya, dia ini orangnya tulus, perhatian dan penyayang
banget sama orang-orang disekitarnya.
Maya Zelikha
Panggilannya Maya. Dia ini
orang pertama yang saya kenal waktu masuk kuliah. Jelasnya maya ini temen
seperjuangan saya waktu daftar dan ormik dulu.
Maya ini orangnya cantik,
baik, ramah. Dia juga tegas dan dewasa. Karena dia udah kerja, jadi waktu kita
ngumpul dan jalan jadi jarang juga.
Dia ini punya ciri khas,
yaitu dengan panggilan 'beb-nya'. Contoh : 'beb, nanti masuk jam berapa?, atau “hati-hati ya beb?.” Iya, semua temen-temen kampus yang kenal dia biasa dipanggil
‘beb’. Jadi, kalo ada yang manggil dengan panggilan yang sama kaya maya, kita selalu bilang, “maya banget nih”. Haha
Maya juga temen yang enak
buat diajak cerita dan ngobrol-ngobrol. Dia ini juga sosok yang mandiri buat
saya.
Ana Uli Simanjuntak
Panggilannya Uli, kadang
ada juga yang manggil Ana, tapi saya biasa manggil dia ‘eda’, karena kita
berdua satu suku, Batak. Jadi, kalo kita lagi ngobrol-ngobrol berdua, bahasanya
suka campur aduk, walaupun kadang kita juga ngga ngerti apa yang lagi kita
omongin.
Uli ini perantau dari
Palembang ke Jakarta. Orangtuanya di Palembang, dan dia di Jakarta tinggal sama
tante-tantenya. Nah, karena jarak rumah tante-tantenya ini yang lumayan agak
jauh-jauh, makanya dia sering pindah sana pindah sini. Karena itu dia sering
kita bilang bangsa nomaden (berpindah-pindah). Kadang ada disana, disini, dan
disitu. Hehe. Tapi, itu yang bikin saya salut sama dia, karena dia orang yang
sangat-sangat mandiri.
Yang uniknya, Uli ini hapal
banget sama rute-rute transjakarta. Saya juga heran, saya yang udah lama
tinggal dijakarta aja masih suka bingung kalo udah naik transjakarta. Makanya kalo
kita jalan kemana atau lagi berangkat ke kampus yang agak jauh, saya tenang
kalo bareng dia, tapi kalo lagi ngga bareng, ngga tenang lagi saya. Haha
Latifah
Panggilannya Evha, kadang
hanifah. Hehe. Kalo Kanza biasa manggil dia ‘Umi'. Saya kenal dia juga pas
awal-awal semester 1. Sama kaya yang lain.
Evha ini keturunan arab,
jadi ngga heran cara ngomongnya juga beda, kadang ‘gw’,‘ane’ dan ‘ape’. Kenapa
saya bold, kata ‘ape’? soalnya saya paling ngakak kalo dia udah ngomong itu.
Pernah disuatu kelas lab English business, ketika dosennya udah selesai jelasin
materi, dan bertanya apakah sudah jelas? Dengan polosnya temen saya yang satu
ini langsung ngomong “APE??” dengan spontannya. Alhasil sekelas langsung ketawa
pas ngedengernya. Haha
Beda sama Yeni dan Ria yang
pecinta dangdut sejati, evha ini cinta banget sama yang namanya musik india
atau lagu yang arab-arab gitu. Unik-unik ya temen saya. Bahagiaa!
Devi Marwati
Pangilannya Devi. Dia ini
temen yang ngga pernah nolak kalo saya minta ‘nebeng’ sama dia. Kadang kalo
saya buru-buru pengen ngajar, saya nebeng deh sama dia. Banyak banget
pengalaman yang kita alamin saat balik berdua, dan kadang bikin kita ketawa
kalo inget lagi.
Si gadis kacamata dari
bandung ini, orangnya manis, juga dewasa. Devi ini punya rasa tahu yang tinggi,
jadi kalo lagi ngobrol sama dia itu harus detail. Darimana, kenapa, dan
mengapa? Hehe
Dia ini orangnya enak
diajak cerita dan tuker pikiran. Devi ini juga pinter renang dan suka basket. Selain
itu, dia juga mandiri dan penyayang.
Dian Andayani
Panggilannya Dian.
Anak-anak biasa manggil dia ‘Emak’ atau ‘Mama Dian’. Tapi saya biasa manggil
dia “Dian.”
Dian ini orangnya lucu.
Setiap celetukannya ada aja yang bikin saya ngikik. Dia ini sama kaya Ria, rasa
percaya diri dan narsisnya tinggi, jadi kalo mereka berdua udah dipertemukan,
suasana langsung berubah jadi rame.
Dian ini selalu punya
bahasa-bahasa baru yang kadang saya ngga tahu, semacam bahasa-bahasa gaul. hehe
Dia juga pinter bahasa
inggris dan akuntansi. Sekarang sih dian udah pindah kampus karena udah kerja
juga, tapi kadang dia nyempetin waktu datang ke kampus buat ketemu sama kita. Kangeen!
Yaaap, Jadi inilah
teman-teman dekat saya dikampus. Masih banyak yang lainnya, tapi kalau
diceritain semuanya, kira-kira mungkin tahun depan baru selesai postingan ini.
hehe
Intinya, bareng mereka saya hectic tugas dan
tentunya, bercerita dan jalan bareng. Selain itu saya juga banyak belajar dari
mereka. dan masih ada 1,5 tahun lagi buat kita panik-panikan dan seru-seruan
dikelas. haha
Semangaat!
Selasa, 24 Desember 2013
Christ Is For Christmas :)
Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Ia bukanlah seorang yang kikir, melainkan seorang yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Namun ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Ia sungguh-sungguh tidak percaya. "Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih," kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja. "Tetapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya ".
Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian malam Natal di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka. "Saya tidak mau menjadi munafik," jawabnya. "Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggu sampai kalian pulang."
Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.
"Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini," pikir pria itu. "Tetapi bagaimana saya bisa menolong mereka?"
Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Namun burung-burung itu tidak mau masuk ke dalam. "Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk," pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tetapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak juga menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.
Pria itu mencoba menggiring mereka, tetapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, dan malah menjauhi kandang yang hangat itu. "Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri, "dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Saya ingin sekali menolong mereka. Saya mengasihi mereka. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat menolong dan membawa mereka pada tempat yang aman."
Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, "Sekarang saya mengerti, Tuhan", bisiknya dengan terisak. "Sekarang saya mengerti mengapa ENGKAU mau menjadi manusia."
Ketika saya membaca kisah ini, saya begitu tersentuh dan kembali merenungkan betapa besarnya kasih Tuhan dalam hidup kita. Mengapa Tuhan mau menjadi manusia - sama seperti kita, bahkan menderita untuk kita? Tuhan tidak lemah. Tuhan bukannya tidak berdaya. Justru Tuhan memiliki KUASA yang melebihi batas akal pikiran manusia. Tuhan yang rendah hati, tidak gila hormat dan kuasa. Tuhan yang memiliki HATI SEBAGAI HAMBA, mau lahir ke dunia, melayani, mengasihi dan menyelamatkan manusia untuk kemuliaan Bapa di Surga.
Natal bukanlah sekedar pohon Natal dengan hiasannya yang mewah. Natal bukanlah sekedar lampu-lampu di pusat perbelanjaan - di jalan-jalan raya, baju baru, kue-kue, tukar kado, dan Santa Claus. Semua itu perlu untuk membangun suasana Natal yang indah, dan saya yakin kita semua menyukainya, Tetapi yang terpenting ialah bahwa Natal ialah perwujudan Yesus sendiri. Bagaimana Yesus ingin kita memaknai Natal yang sesungguhnya. Ada sepenggal quote yang berkata demikian.. "Orang yang benar-benar buta ialah mereka yang tidak bisa merasakan Natal di dalam hatinya.."
Oleh karena itu, bukan harta, bukan segala kemewahan yang Ia cari, melainkan Hati kita. Hati yang mau berbagi dan memberi kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita, seperti yang sudah Ia lakukan dalam hidup kita. Untuk itulah Yesus lahir, bukan untuk yang lain.
Christ is for Christmas! Only Him!
Senin, 25 November 2013
Thankyou Teacher :)
"A truly special teacher is very wise, and sees tomorrow in every child's eyes. Because for them, to teach is to touch other lives, ever." - Anonymus
Mencintai bukanlah hanya memuji saat seseorang berhasil atau melakukan kebaikan, namun juga meyakinkan saat ia kehilangan kepercayaan diri, menenangkan saat ia merasa ketakukan, menegur saat ia berbuat salah, menyemangati saat ia kehilangan harapan, membangun saat ia butuh motivasi, dan terlebih dari itu.. menjadi sahabat - tempat berbagi suka dan duka.
Dengan sebuah komitmen untuk berkorban dan hati yang penuh cinta, mereka menaburkan kasih dalam segala hal yang dilakukannya. Mereka membantu mewujudkan mimpi para murid untuk mengubah dunia melalui hidupnya, ilmu dan pengalaman yang mereka bagikan. Mereka tak henti-hentinya memberikan semangat dan motivasi untuk terus belajar dan berjuang, berusaha tanpa kenal putus asa.
Hal-hal tersebut sungguh tak ternilai harganya. Tidak dapat dibeli dan dibayar dengan apapun juga. Mereka melakukan tugasnya dengan sepenuh hati, dengan kasih dan ketulusan. Merekalah pahlawan yang tak kenal musim. Merekalah yang telah menjadikan kita who we are today. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Happy Teacher's Day!
Selamanya kalian dihati :)
Rabu, 06 November 2013
Don't Judge!
Seorang mahasiswi berjalan cepat di jembatan penyeberangan. Tergesa-gesa menuju kampus, mengingat belum ada materi ujian yang ia pelajari. Semalam ia nyaris tidak tidur. Ada telepon yang mengabari bahwa rumahnya baru saja kemalingan. Ibu masih terguncang dan sering pingsan. Uang untuk operasi usus buntu adik yang baru diambil dari bank pun tidak luput dari tangan si jahat. Andai ayah masih ada, ibu tidak perlu sendirian menanggung segalanya.
Perutnya berteriak kelaparan, tapi uang hanya cukup untuk makan sekali nanti siang. Jatah ongkos untuk angkot pun habis, diganti dengan jalan kaki dari kost menuju kampus.
*
Ibu pengemis tua duduk di sisi jembatan penyeberangan. Sesekali merapikan koran alas duduknya. Teringat anaknya yang terbaring di rumah, demam sudah 3 hari. Tidak ada obat, hanya air putih dan kain hangat basah untuk mengobati. Badannya lelah, semalam menjual pecel di stasiun hingga subuh. Sekarang menyempatkan mengemis sebelum kembali memulung.
Matanya menatap kosong orang-orang yang berlalu-lalang. Hampa.
*
Mahasiswi itu melihat ibu tua yang mengemis dari jauh. Ingin memberikan uang tapi tidak ada tersisa. Lagipula, pengemis seperti itu hanya malas, bisa bekerja tapi lebih memilih duduk santai menanti uluran tangan memberi uang, pikirnya. Payah.
Ia pun berlalu tanpa memandang.
*
Pengemis itu memalingkan muka. Dasar, perempuan angkuh. Ia kaya, kenapa tidak mau berbagi. Sedikit saja, tidak rugi apapun. Masih bisa kuliah dan pulang ke rumah nyaman dengan anggota keluarga sehat tapi tidak sedikitpun mau berbagi, pikirnya. Sombong.
Ia pun mendengus kesal.
**
“With the tremendous acceleration of life, we grow accustomed to using our mind and eye for seeing and judging incompletely or incorrectly, and all men are like travelers who get to know a land and its people from a train.” - Friedrich Nietzsche in Human, All Too Human
“Do not judge, or you too will be judged." -Matthew 7:1
Selasa, 05 November 2013
Sore Itu
Tetesan air mungil dari langit terjatuh perlahan, tidak berniat untuk menyakiti. Kedamaian yang tercipta mengingatkanku akan sesuatu. Suaramu.
Gerimis kecil ini terjatuh lugu, tidak mengerti mengapa harus turun ke bumi. Ia hanya patuh.
Mungkin di belahan bumi lain, ada mereka yang mengadahkan tangan ke langit dan syukur terbisik karena kehadiran si gerimis kecil.
Alunan merdu yang tercipta dari gerimis mengajakku berlari dan menari untuk meresapi setiap tetesannya, karena kesejukan yang dibawanya menyingkapkan memori terindah tentang kehadiranmu.
Ingin aku meleburkan diri dengan tetesan hujan, biar mereka yang mengantar aku dan membisikkan rindu ini kepadamu.
Hujan berakhir dan membawa dingin. Dingin yang tidak menggigit, dingin yang lembut, dingin yang seolah mengajariku bersyukur untuk setiap lukisan pelangi di kanvas langit.
Pelangi ini membawa damai. Begitu juga tatapanmu.
Apa benar langit telah mengangkatmu menjadi anak?
Langganan:
Postingan (Atom)







